KUNDALINI — Energi yang Tidak Pernah Tersesat
KUNDALINI — Energi yang Tidak Pernah Tersesat
Kundalini tidak pernah salah jalan.
Yang sering tersesat adalah manusia.
Ia ada sejak awal—
diam di dasar kehidupan,
menunggu saat tubuh, pikiran, dan niat
berhenti saling tarik-menarik.
Kundalini bukan tenaga untuk menjadi “lebih”.
Ia tenaga untuk menjadi utuh.
Utuh di tubuh.
Utuh di rasa.
Utuh di hidup yang sedang dijalani,
bukan yang diimpikan.
Ia tidak menyukai kebisingan batin.
Tidak tertarik pada pencitraan spiritual.
Ia bergerak ketika hidup mulai rapi:
tidur cukup, napas sadar, kerja jujur,
dan emosi tidak lagi disangkal.
Saat Kundalini mengalir,
yang berubah bukan dunia luar,
melainkan cara manusia berada di dalam dunia.
Langkah menjadi mantap.
Kata-kata menjadi seperlunya.
Diam menjadi cukup.
Energi ini tidak menghapus luka.
Ia memberi ruang agar luka
tidak lagi menguasai arah hidup.
Bukan dilawan.
Bukan disembuhkan tergesa.
Hanya dihadapi dengan sadar.
Kundalini tidak membuat hidup mudah.
Ia membuat hidup jelas.
Dan kejelasan itu—
meski kadang sunyi—
jauh lebih membebaskan daripada ekstase apa pun.
Pada akhirnya,
Kundalini bukan pengalaman spiritual.
Ia adalah kedewasaan energi:
saat kekuatan tidak lagi ingin membuktikan apa-apa,
dan manusia akhirnya nyaman
menjadi dirinya sendiri.
Komentar
Posting Komentar