tulisan DHYANA PART 4
Tulisan DHYANA PART 4
Apakah Dhyana butuh guru, atau cukup belajar sendiri?
Jawaban realistis — bukan manis-manis:
1. Bisa sendiri… tapi jalannya lama, muter, dan rawan bias
Belajar sendiri itu mungkin.
Buku? Video? Artikel? Yes.
Tapi ada beberapa risiko:
merasa “sudah paham”, padahal cuma paham teori
terjebak gaya meditasi yang salah untuk masalahmu
ego diam-diam jadi bos: “gue udah keren nih — spiritual banget”
salah tafsir pengalaman: mimpi dikira wahyu, halusinasi dikira pencerahan
Kayak belajar bela diri lewat YouTube: bisa — tapi jangan kaget kalau posisi salah dan lutut protes.
2. Guru bukan “bos spiritual” — tapi tukang kalibrasi
Guru sejati tidak mengendalikan.
Dia mengoreksi hal-hal kecil yang kita nggak sadar:
postur kurang stabil
napas terlalu dikontrol
fokus terlalu keras
ambisi kebanyakan
emosi tak diolah tapi “dipendam”
Satu kalimat dari guru kadang menghemat bertahun-tahun trial & error.
Itu leverage. ROI tinggi.
3.Tapi hati-hati: tidak semua “guru” layak diikuti
Kriteria red flag:
1. minta uang berlebihan
2. minta ketaatan buta
3. mengklaim dirinya paling suci
4. memaksa aturan aneh
5. membuatmu tergantung, bukan mandiri
Guru yang baik:
1. menjelaskan sederhana
2. mendorong kemandirian
3. terbuka dikritik
4. rendah hati
5 .mengembalikan semua ke praktik, bukan kultus
Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman — trust your gut. Cabut. Done.
4. Model yang paling sehat
Menurut tradisi-tradisi besar:
Latihan pribadi — dibimbing, dikoreksi sesekali.
Jadi:
90% latihan rutin
10% bimbingan, review, klarifikasi
Kayak punya mentor karier: nggak tiap hari ketemu — tapi arah jadi jelas.
5. Kalau sementara belum punya guru?
Masih oke. Lakukan ini:
1.latihan singkat tapi konsisten (10–20 menit) 2.baca sumber yang kredibel
3.catat pengalaman (apa muncul, apa sulit)
4.jangan mengejar “pengalaman aneh”
5.tetap rendah hati — selalu siap dikoreksi
Kuncinya: sehat, stabil, membumi.
Komentar
Posting Komentar